Wednesday, December 21, 2016

Ajari Anakmu



"Ummi..Bibing mau berenang di sungai lagi.."
"Sungai yang mana??"
"Itu..yang banyak batu-batunya..yang naik ban.."
"Ooh..yang di Yogya?"
"Iya.."

Demi mendengar permintaan itu, saya langsung merinding. Sebagai orang darat tulen, kali. Oya di Gunung Kidul yang gelap saat melintasi gua dan dalam di sekitar air terjun ini sudah cukup untuk membuat saya gemetar. Jangankan untuk turun ke sungai, duduk di ban besar sambil ditarik pemandu saja sudah membuat saya ketakutan. Apalagi berenang di dalam sungai seperti dilakukan Afra dan Arsyad sampai sejauh beberapa ratus meter.

Dengan ngeri saya melihat Afra menurunkan Bibing dari ban ke sungai yang dalamnya 9 meter itu.. dan ternyata Bibing bisa menikmati berenang di sungai hijau itu. Saya berusaha memberi semangat pada Bibing karena berani turun ke sungai, padahal hati saya bergejolak tak menentu.

Ya..begitulah seorang ibu. Takut akan sesuatu bukan berarti harus menebarkan ketakutan itu pada anak-anak. Tidak suka sesuatu bukan berarti anak-anak harus tidak suka juga dengan sesuatu itu. Tidak bisa mengerjakan sesuatu tidak bisa menjadi alasan anak-anak tidak bisa mengerjakan hal yang sama.

Anak tidak sama dengan kita, dan tidak harus sama. Tidak ada ibu yang sempurna, dan ibu memang tidak harus sempurna. Cukuplah seorang ibu menunjukkan pada anak-anaknya apa yang seharusnya dia pelajari. Di mana belajarnya dan siapa yang mengajarinya. Tidak perlu gengsi mengakui bahwa kita tidak mampu menguasai segalanya.

Hanya karena saya takut air, tidak berarti anak-anak harus ditakut-takuti juga. Bagaimana pun seorang anak Muslim harus diajari berenang. Saya tetap harus mendukung, memberi kesempatan dan memfasilitasi agar mereka bisa belajar mencintai air, baik di kolam, sungai, laut.

Saat anak-anak berkesempatan bermain dengan ular, saya harus memberi motivasi agar mereka senang dan berani, walaupun sebetulnya cacing saja sudah bisa membuat saya lari terbirit-birit.

Tidak ada alasan seorang ibu enggan memasak ikan dan sayur untuk anaknya karena si ibu tidak suka. Ikan dan sayur baik untuk anak-anak, maka ibu harus memperkenalkannya pada anak-anak dengan penuh semangat.

Tidak ada alasan seorang ibu mengatakan wajar seorang anak tidak suka matematika, karena ibunya juga tidak suka matematika. Bagaimanapun pengetahuan dasar matematika penting untuk membentuk logika berpikir anak.

Tidak ada alasan seorang ibu membiarkan anaknya tidak mau berolahraga karena dia juga malas berolahraga. Karena olahraga teratur sangat penting untuk produktivitas anak.

Tidak ada alasan seorang ibu melarang anaknya bereksplorasi, belajar melukis dan hand craft karena tidak suka rumah menjadi kacau dan berantakan. Karena eksplorasi dan seni akan menjadi kunci pembuka kreativitas anak.

Anak-anak berhak atas segala jenis stimulasi dan eksplorasi. Terkadang seorang ibu harus bisa belajar menyukai sesuatu yang tidak disukainya, jika hal itu penting bagi perkembangan anak.
Anak harus tumbuh lebih baik, lebih cerdas, lebih ahli dari pada orangtuanya. Jangan sampai anak hanya mempelajari apa yang disukai dan dimengerti orangtuanya. Apalagi hanya belajar dari orangtuanya. Yang sudahlah terbatas ilmunya, banyak terdistorsi pula dalam penyampaiannya.

Bahkan dalam homeschooling pun, tidak berarti anak dibatasi belajar hanya dengan orangtuanya saja. Orangtua lebih berperan seperti mentor, coach, yang membantu membuka pintu-pintu ilmu agar anak bisa keluar dari zona sempit rumah keluarga ke angkasa ilmu yang tak bertepi.


EmoticonEmoticon